KeIslaman
Jum'at, 12 April 2013
Bagaimanakah Hukum Menikah Dengan Mantan Mertua Tiri
Menikah Dengan Mertua Tiri
Mertua Tiri tidak termasuk Mahram.

Pengertian Mahram

Mahram adalah sebuah istilah yang berarti wanita yang haram dinikahi. Mahram berasal dari makna haram, yaitu wanita yang haram dinikahi. Sebenarnya antara keharaman menikahi seorang wanita dengan kaitannya bolehnya terlihat sebagian aurat ada hubungan langsung dan tidak langsung.

Hubungan langsung adalah bila hubungannya seperti akibat hubungan faktor famili atau keluarga. Hubungan tidak langsung adalah karena faktor diri wanita tersebut. Misalnya, seorang wanita yang sedang punya suami, hukumnya haram dinikahi orang lain. Juga seorang wanita yang masih dalam masa ’iddah talak dari suaminya. Atau wanita kafir non kitabiyyah, yaitu wanita yang agamanya adalah agama penyembah berhala seperi Majusi, Hindu, Budha.

Hubungan mahram ini melahirkan beberapa konsekuensi, yaitu hubungan mahram yang bersifat permanen (muabbad), antara lain :

1.      Kebolehan berkhalwat (berduaan)

Kebolehan bepergiannya seorang wanita dalam safar lebih dari 3 hari asal ditemani mahramnya.

2.      Kebolehan melihat sebagian dari aurat wanita mahram, seperti kepala, rambut, tangan dan kaki.

Sedangkan hubungan mahram yang selain itu adalah sekedar haram untuk dinikahi, tetapi tidak membuat halalnya berkhalwat, bepergian berdua atau melihat sebagian dari auratnya. Hubungan mahram ini adalah hubungan mahram yang bersifat sementara saja.

 

Daftar Wanita Yang Haram Dinikahi

Untuk menetapkan apakah seorang laki-laki dihalalkan menikah dengan seorang wanita, caranya cukup mudah. Yaitu dengan melihat pada daftar mahram (wanita yang haram dinikahi).

Bila seorang wanita tercantum di dalam daftar itu, maka hukumnya haram dinikahi. Sebaliknya, bila tidak tercantum, maka boleh dinikahi.

Dalam hal ini, kita patut berterima kasih kepada para ulama fiqih, di mana mereka telah melakukan proses pengumpulan semua dalil, baik dari Al-Quran dan Al-hadits, lalu melakukan proses kritisasi periwayatan masing-masing hadits tersebut, kemudian melakukan analisa mendalam dan akhirnya mengambil kesimpulan yang pasti.

Hasilnya berupa daftar yang lengkap mengenai wanita mana saja yang menjadi mahram. Berikut ini adalah daftar itu, sebagaimana yang tersebar di berbagai kitab fiqih.

1. Mahram karena nasab

·         Ibu kandung dan seterusnya keatas seperti nenek, ibunya nenek.

·         Anak wanita dan seteresnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.

·         Saudara kandung wanita.

·         `Ammat / Bibi (saudara wanita ayah).

·         Khaalaat / Bibi (saudara wanita ibu).

·         Banatul Akh / Anak wanita dari saudara laki-laki.

·         Banatul Ukht / anak wanita dari saudara wanita.

2. Mahram karena mushaharah (besanan/ipar) atau sebab pernikahan

·         Ibu kandung dari istri (mertua wanita).

·         Anak wanita dari istri (anak tiri).

·         Istri dari anak laki-laki (menantu peremuan).

·         Istri dari ayah kandung (ibu tiri).

3. Mahram karena penyusuan

·         Ibu yang menyusui.

·         Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).

·         Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya (nenek juga).

·         Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).

·         Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.

·         Saudara wanita dari ibu yang menyusui.

 

Mahram dalam Makna Haram Menikahi Semata

Selain itu, ada keadaan wanita tertentu yang menjadi haram dengan sendirinya untuk dinikahi, bukan disebabkan adanya hubungan seseorang dengannya, melainkan disebabkan oleh keadaan wanita itu sendiri secara individu. Keharaman ini bersifat bersifat mu'aqqat atau sementara. Di antaranya:

  1. Istri orang lain, tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh melihat auratnya.
  2. Saudara ipar, atau saudara wanita dari istri. Tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh khalwat atau melihat sebagian auratnya. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari istri.
  3. Wanita yang masih dalam masa 'iddah, yaitu masa menunggu akibat dicerai suaminya atau ditinggal mati.
  4. Istri yang telah ditalak tiga.
  5. Menikah dalam keadaan Ihram, seorang yang sedang dalam keadaan berihram baik untuk haji atau umrah, dilarang menikah atau menikahkan orang lain.
  6. Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka.
  7. Menikahi wanita pezina.
  8. Menikahi istri yang telah dili’an, yaitu yang telah dicerai dengan cara dilaknat.
  9. Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah.

Kasus Menikah dengan Mantan Mertua Tiri

Dari daftar di atas kita dapati bahwa hubungan antara suami dengan ibu tiri istrinya atau seorang pria dengan ibu mertua tirinya bukanlah hubungan mahram, sehingga dibolehkan dan dimungkinkan terjadi pernikahan di antara mereka.

Adapun ayat 22 dalam Surat an-Nisa :

وَلاَ تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ أبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Dan janganlah kamu menikahi istri-istri ayah kamu”.

Yang dimaksud disini adalah antara anak kandung dengan istri-istri ayah kandungnya.

Demikian pula ayat 23 dalam Surat an-Nisa :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهَاتُكُمْ .....وَاُمَّهَاتُ نِسَاءِكُمْ

Diharamkan atas kalian Ibu-ibu kalian …….dan Ibu-ibu dari istri–istri kalian.”

Yang dimaksud di sini adalah ibu kandung istri bukan ibu tirinya, karena yang dimaksud ibu disini adalah dari segi nasab (min jihatin nasb) adapun lafal jamak disini tidak bisa diartikan sebagai ibu tiri dari istri tetapi ibu kandung dari istri-istrinya jika ia memiliki lebih dari satu istri atau ibu istri ke atas misalnya neneknya. (lihat tafsir ash-Showi tentang ayat di atas atau I’anatuth Tholibin juz III dalam bab nikah).

 

RUJUKAN CONTOH KASUS:

KEPUTUSAN JAWATAN KUASA PERUNDING HUKUM SYARA' (FATWA) NEGERI SELANGOR DARUL EHSAN MENGENAI PERNlKAHAN ANTARA MENANTU DENGAN IBU MERTUA TIRI


1. TAJUK PERSOALAN

Pihak Jabatan Agama Islam Selangor telah menerima pengaduan daripada wakil jemaah Surau Kg. Pekan, Simpang Lima, Sungai Besar mengenai seorang ahli qaryah tersebut telah bernikah dengan ibu mertua tirinya.

Aduan ini dipanjangkan ke Bahagian Fatwa untuk mendapatkan keputusan Fatwa samada sah atau tidak pernikahan mereka berdua. Pernikahan tersebut melibatkan En. Mohidin bin Abd. Samad (Menantu) dengan Puan Arbaatun bte Hj. Maamun (Ibu Mertua tiri yang telah bernikah pada 29 November 1991 dan dinaikahkan oleh AF Tuan Kadi Sungai Besar.

Maka Jawatankuasa Perunding Hukum Syara' (Fatwa) telah diminta memberikan Fatwanya mengenai perkara tersebut.

 

2. PERBINCANGAN DAN KEPUTUSAN

2.1. Jawatan kuasa Perunding Hukum Syara' (Fatwa) telah membincangkan perkara di atas dengan penuh teliti mengikut hukum yang muktabar di dalam Islam. Keputusannya adalah seperti berikut :

"Bahawa pernikahan di antara En. Mohidin bin Abd. Samad (Menantu) dengan Puan Arbaatun bte Hj. Maamun adalah sah, kerana ia tidak ada hubungan nasab keturunan atau ikatan perkahwinan yang diharamkan mengikut hukum Syara' dalilnya adalah :

Maksudnya :

Diharamkan kepada kamu berkahwin (perempuan-perempuan yang berikut), ibu-ibu kamu dan anak-anak kamu dan saudara-saudara kamu dan saudara-saudara bapa kamu dan saudara-saudara ibu kamu dan anak-anak saudara kamu yang lelaki dan anak-anak saudara kamu yang perempuan dan ibu-ibu kamu yang telah menyusukan kamu dan saudara-saudara sesusuan kamu dan ibu-ibu isteri kamu dan anak-anak tiri yang dalam peliharaan kamu dari isteri-isteri yang telah kamu campuri, tetapi kalau kamu belum campuri mereka (isteri kamu) itu (dan kamu telah pun menceraikan mereka), maka tiadalah salah kamu (berkahwin dengannya), dan (haram juga kamu berkahwin dengan) bekas isteri anak-anak kamu sendiri yang berasal dari benih kamu, dan diharamkan kamu menghimpunkan dua beradik sekali (untuk menjadi isteri-isteri kamu), kecuali yang telah berlaku pada masa yang lalu, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi, dan (diharamkan juga kamu berkahwin dengan) perempuan-perempuan isteri orang, kecuali hamba sahaja yang kamu membelinya, (diharamkan segala yang tersebut itu) ialah suatu ketetapan hukum Allah (yang diwajibkan) atas kamu, dan (sebaliknya), dihalalkan bagi kamu perempuan-perempuan yang lain dari yang tersebut itu" .

Daripada ayat yang disebutkan di atas jelas menunjukkan bahawa tidak ada larangan perkahwinan (pernikahan) emak mertua tiri itu diharamkan dalam Islam.

*Ibu Mertua Tiri bukanlah Mahram kerana Mushoharoh (Berkahwin) kepada menantu lelakinya. Cuma semasa menjadi isteri kepada Bapa Mertua, Ibu Mertua Tiri tersebut tidak boleh berkahwin dengan Menantu lelakinya tersebut, kerana dia masih isteri orang; iaitu wanita yang terhalang untuk dikahwini. Maka setelah diceraikan, dia boleh berkahwin dengan menantunya, sepertimana di dalam fatwa di atas.

Sumber:

  1. Fiqih Nikah, Ust. H. Sarwat, Lc
  2. http://ppassalamcepu.blogspot.com/2012/01/
  3. www.muftiselangor.gov.my/PortalFatwaSelangor/

 

Lq, 11 April 2013