KeImanan
Senin, 25 Februari 2013
2 Faktor Penghancur Islam & Umatnya
2 Faktor Penghancur
Syubuhat & Syahwat adalah penghancur agama & umat.

Dalam hadits riwayat Muslim diceritakan:

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ اَلْعَالِيَةِ؛ حَتَّى إِذَا مَرَّ بِمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ؛ دَخَلَ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ, وَصَلَّيْنَا مَعَهُ, وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلاً, ثُمَّ اِنْصَرَفَ إِلَيْنَا فَقَالَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ , وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبِّي أَلَّا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا, وَسَأَلْتُهُ أَلَّا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ, فَأَعْطَانِيهَا, وَسَأَلْتُهُ أَلَّا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ, فَمَنَعَنِيهَا

"Bahwa suatu ketika Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam - datang dari 'Aliyah, dan ketika melewati masjid milik bani Mu'awiyah berliau masuk dan sholat 2 rekaat, dan kami pun turut sholat bersama Beliau. Beliau berdoa sangat lama. Setelah selesai, Beliau berpaling kepada kami dan bersabda: Aku meminta kepada Tuhanku 3 permintaan, 2 dikabulkan dan 1 tidak. Aku meminta kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dalam (adzab) satu tahun dan itu dikabulkan. dan aku meminta agar umatku tidak dibinasakan dengan ditenggelamkan dan itu dikabulkan. Kemudian aku meminta agar umatku tidak saling bermusuhan dan itu tidak dikabulkan kepadaku."

Melalui hadits Rasulullah Saw ini diketahui bahwa permusuhan dan perselisihan adalah suatu hal yang sudah diprediksikan dan tak terelakkan menimpa umat ini. Perpecahan umat menunjukkan adanya kerusakan atas nilai-nilai agama yang dibawa oleh para Nabi dan Utusan-Nya.

Ada 2 faktor yang menyebabkan lemah dan rusaknya agama yang mulia ini di mata manusia. Pertama, Asy-Syubuhat, yakni tidak jelas konsep keilmuan dan pemahaman keagamaannya. Faktor ini yang merusak citra Islam dan umatnya di mata dunia. Maksud tidak jelas di sini adalah pemahaman umat tidak utuh, integral, dan komprehenshif, dalam arti memahami agama ini sepotong-sepotong (parsial). Mengetahui bagian yang satu tapi tidak mengetahui bagian lainnya. Padahal Islam dihadirkan dalam konsep yang menyeluruh, menyentuh berbagai aspek kehidupan dari dunia hingga akhirat.

Jika memahami agama ini tidak kaffah, maka terjadi kerancuan di dalam pemahaman agama, sehingga agama tampak dipandang (dirasakan) oleh manusia menjadi tidak mulia. Bahkan sering agama dituding sebagai sumber penyebab kekerasan, terorisme, atau stempel negatif lainnya. Islam menjadi rendah dalam pandangan  manusia dan umatnya.

Agar umat memahami agama ini dengan komprehensif dan terintegrasi adalah dengan mendapatkan sumbernya secara utuh melalui rantai ajaran Kenabian. Nabi Muhammad Saw mengisyaratkan ada penerusnya untuk menyampaikan ajaran agama yang mulia ini dengan utuh (komprehensif). Cukup dengan ungkapan hadits Al-’Ulama-u warotsatul Anbiyaa’, Al-’Ulama merupakan pewaris para Nabi, yang menunjukkan sosok pewaris ini mendapatkan bimbingan dan ilmu dari Rasulullah Saw, sehingga mendapatkan bimbingan secara ruhaniyah, tersingkap kandungan Al-Kitab dan As-Sunnah, beserta hikmah-hikmahnya. Inilah figur sentral pembawa agama yang kaffah.

Dalam Al-Quran disebutkan, Walikulli qowmin Haad, setiap kaum memiliki pemberi petunjuk.

Maka seyogyanya umat ini memahami agama ini melalui figur yang telah dibukakan pemahaman konsep agama yang utuh, berupa nilai kandungan Al-Quran dan As-Sunnah (dalam bentuk tertulis) serta Al-Hikmah berupa kandungan ajaran yang lebih mendalam.

Apabila umat dibimbing dan diasuh oleh figur Al-’Ulama ini niscaya umat akan memahami Islam yang sesungguhnya, sehingga melahirkan generasi umat terbaik, [بسطة فى العلم والجسم] kuat ilmu dan tangguh fisiknya.

Faktor kedua, adalah Asy-Syahawat, yakni gejolak emosional (hawa nafsu). Ketika penyakit batin menguasai manusia maka akan menimbulkan kehancuran umat. Walaupun memiliki wawasan keislaman yang baik, tidak cukup, jika jiwanya kotor, tidak dibersihkan, tidak ditempa dengan riyadhah (upaya pembersihan), maka jiwanya senantiasa didominasi kepentingan syahawat. Sedangkan kecenderungan syahawat manusia cenderung kepada keburukan-keburukan, egoisme, keakuan, keserakahan, dan lain-lain [la-ammarotun bis-suu‘]. Jika jiwa yang kotor ini tidak dibersihkan dari jiwa manusia maka akan menghancurkan tatanan kehidupan umat ini.

Ketika Nabi Musa As diperintahkan Allah untuk  mengingatkan Firaun yang otoriter dan zhalim kepada umatnya, maka Nabi Musa dibimbing oleh Allah. Materi dakwah pertamanya adalah: faqul hal laka an tazakka wa ahdiyaka ilaa Robbika fatakhsyaa. Sudikah engkau membersihkan penyakit-penyakit batin, maka aku tunjukkan kepada Tuhanmu sehingga engkau tunduk kepada Allah.[1] Manusia tidak akan takut dan tunduk kepada agama Allah jika jiwanya dikuasai oleh hawa nafsunya.

Maka bagaimana mengobati umat dari penyakit-penyakit batin suka memfitnah, menghancurkan, dan memojokkan orang lain. Wayuzakkiihim, umat akan bersih jiwanya jika dibimbing oleh Ulama sebagai pewaris, kemudian ia masuk ke dalam wilayah-wilayah ibadah yang dapat membersihkan penyakit-penyakit batin.

Manusia tidak akan tunduk kepada Allah dengan ikhlas (bersih) jika dirinya atau hawa nafsunya dijadikan sebagai Tuhan, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran: Aro-ayta manit takhodza ilaahahuu hawaahu ... [2] Banyak manusia menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Padahal keinginannya tidak akan berakhir, keinginannya selalu berlebih-lebihan. Maka  bersihkan jiwa dari segala kotoran penyakit batin, keakuan, kesombongan, cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan, cinta kepada jabatan, takut mati. Itulah penyakit-penyakit batin manusia yang akan menghancurkan umat ini.

Sehingga banyak tindakan yang mengatasnamakan ayat Allah atau As-Sunnah. Tapi di balik itu hanya sebatas topeng, yang di balik itu terdapat ambisi syahwat hawa nafsunya. Islam semakin rusak di mata manusia.

Kedua faktor ini semestinya diketahui umat ini, sehingga mengambil langkah solusi yang efektif dan produktif agar umat senantiasa berada di bawah bimbingan para Al-’Ulama sebagaimana umat terdahulu yang cemerlang dan mulia, karena dibimbing oleh para Nabi dan Rasul. Maka manfaatkan kesempatan hidup ini sebaik-baiknya, karena kesempatan semakin terbatas untuk memahami Islam secara komprehensif dan mengamalkan dalam setiap aspek kehidupan kita.



[1] (Q.S. An-Nazi’at: 18-19).

[2] (Q.S. Al-Furqan: 43).